Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Manisnya Buah Kesabaran

Bismillah.

Berkata Abu Ibrahim:
Aku berjalan pada suatu malam menjelang subuh. Aku tersesat, akupun berhenti di sebuah kemah tua. Aku mengamati sekelilingnya, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki terduduk di tanah. Orang itu duduk dengan tenang. Kedua tangannya buntung. Dia seorang yang buta, dan tidak ada seorangpun keluarganya yang tinggal bersamanya di kemah itu. Aku melihatnya mengucapkan beberapa patah kata. Aku mendekatinya dan ternyata dia mengucapkan sebuah kalimat berulang-ulang.

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

“Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan aku atas kebanyakan makhluk yang Dia ciptakan dengan sebenar-benar kelebihan.”

Aku sangat kagum dengan ucapannya itu sehingga membuatku berkeinginan untuk melihat keadaannya lebih dekat. Aku menyaksikan dia seorang yang kehilangan kebanyakan alat inderanya, kedua tangannya buntung, kedua matanya buta, dan dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri. Aku melihat kondisinya seperti itu. Akupun mencari barangkali ada anaknya yang melayaninya, atau istri yang menghiburnya. Namun aku tidak melihat seorangpun.

Aku berkata, “Assalamu’alaikum, aku seorang yang tersesat jalan, lalu aku berhenti di kemahmu ini. Siapakah engkau? Mengapa engkau tinggal seorang diri di tempat ini? Di manakah keluargamu? Di manakah anak-anakmu? Di manakah sanak famili dan karib kerabatmu?”

Dia menjawab, “Aku seorang yang sakit, orang-orang meninggalkanku. Kebanyakan keluargaku telah meninggal.”

Aku berkata, “Tapi aku mendengar engkau mengucapkan berulang-ulang ‘Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan aku atas kebanyakan makhluk yang Dia ciptakan dengan sebenar-benar kelebihan’. Nikmat Allah yang mana atas dirimu? Dengan apa Allah melebihkanmu? Padahal engkau seorang yang buta, fakir, kedua tanganmu buntung, engkau tinggal seorang diri?!

Dia menjawab, “Akan aku beritahukan kepadamu tentang hal itu. Namun sebelumnya aku punya satu permintaan kepadamu. Akankah engkau mau memberikannya kepadaku?”

“Aku terima, dan akan kupenuhi permintaanmu,” jawabku.

Dia lalu berkata, “Engkau melihatku telah diuji Allah dengan bermacam-macam ujian, akan tetapi, segala puji bagi Allah yang telah melebihkan aku atas kebanyakan makhluk yang Dia ciptakan dengan sebenar-benar kelebihan. Bukankah Allah telah memberiku akal? Aku bisa memahami dengan akal tersebut, aku bergerak dan berpikir dengan akal tersebut?!”

“Benar,” jawabku.

Dia berkata lagi, “Berapa banyak manusia yang sakit jiwa?”

Aku menjawab, “Banyak.”

Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan aku atas orang-orang itu dengan sebenar-benar kelebihan. Bukankah Allah telah memberiku pendengaran? Aku bisa mendengar suara adzan, aku bisa memahami pembicaraan, dan aku mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku?!”

“Benar,” jawabku.

Dia bertanya, “Berapa banyak manusia yang tuli tidak bisa mendengar?”

“Banyak sekali,” jawabku.

Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan aku atas orang-orang itu. Bukankah Allah telah memberikan lisan kepadaku?? Aku bisa berdzikir kepada Rabbku, dan aku bisa menjelaskan kebutuhanku?!”

“Benar,” jawabku.

Dia berkata, “Berapa banyak manusia yang bisu, tidak bisa berbicara?” 

“Banyak sekali,” jawabku.

Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan aku atas kebanyakan orang–orang itu. Bukankah Allah telah menjadikan aku seorang muslim, aku menyembah Rabbku, aku mengharapkan ganjaran dari-Nya, dan aku bersabar atas musibah yang menimpaku??”

“Benar,” jawabku.

Dia berkata, “Berapa banyak manusia yang menyembah patung dan salib? Mereka juga sakit (seperti aku). Sungguh, mereka telah rugi dunia dan akhirat.”

“Banyak sekali,” jawabku.

Orang tua itupun kembali menghitung-hitung nikmat Allah atas dirinya. Aku bertambah kagum dengan kekuatan iman, keyakinan, dan keridhaannya dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.

Berapa banyak orang sakit selain orang tua ini, orang-orang yang tidak diuji seperti ujiannya, tidak juga dengan seperempat ujiannya, dari orang-orang yang dilumpuhkan oleh penyakit, atau kehilangan pendengaran dan penglihatan mereka, atau kehilangan sebagian anggota tubuh mereka, dan mereka hanya membayangkan orang-orang yang sehat dan menghubung-hubungkan dengan penyakit yang mereka alami. Bersama itu mereka berkeluh kesah, menjerit dan menangis, bahkan melemah kesabaran dan menipis keyakinan akan ganjaran Allah. Mereka itu bukan termasuk orang yang apabila bersumpah atas suatu kaum lalu sumpahnya akan meliputi mereka semuanya.

Waktu subuhpun pun tiba sementara pikiranku menerawang jauh. Pikiranku terus menerawang sampai tiba-tiba orang tua itu berkata, “Apakah aku boleh mengemukakan permintaanku? Apakah engkau akan memenuhinya??”

“Silakan..!! Apa permintaanmu?” jawabku.

Dia menundukkan kepala sebentar, lalu mengangkatnya kembali. Dia dikuasai kedukaannya, dia berkata, “Tidak ada keluargaku yang tersisa kecuali seorang anakku, umurnya sekarang empat belas tahun. Dialah yang memberi makan dan minum kepadaku, membantuku berwudhu, dan memenuhi segala kebutuhanku. Tadi malam dia keluar untuk mencarikan makanan untukku dan sampai sekarang belum pulang. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup dan masih diharapkan kedatangannya, atau telah mati dan dilupakan. Dan keadaanku sebagaimana yang engkau lihat, aku seorang tua yang buta, aku tidak sanggup mencarinya.”

Akupun menanyakan ciri-ciri anak tersebut lalu dia memberitahuku. Aku menjanjikan kabar baik kepadanya. Lalu aku keluar dari sisinya. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mencari anak itu. Ke arah mana aku akan melangkah.

Ketika aku sedang berjalan, aku menjumpai seseorang dan aku bertanya kepadanya tentang anak itu. Tiba-tiba pandanganku tertuju ke sebuah bukit kecil yang dekat dengan kemah orang tua itu. Aku melihat di atasnya sekumpulan burung gagak tengah mengerumuni sesuatu. Hatiku berbisik bahwa tidak mungkin burung-burung itu berkumpul kecuali di atas bangkai atau makanan yang melimpah ruah.

Tatkala aku melihat tempat berkumpulnya burung-burung itu, tiba-tiba aku melihat mayat seorang anak muda yang telah tercabik-cabik. Serigala telah menerkamnya dan meninggalkan sisa tubuhnya untuk burung-burung. Aku tidak bersedih terhadap anak itu sebagaimana aku bersedih terhadap orang tua itu.

Aku turun dari bukit. Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahanku. Aku berada diantara kesedihan dan kebingungan. Apakah aku pergi saja dan meninggalkan orang tua itu meraba-raba jalan pulangnya seorang diri? Ataukah aku kembali kepadanya dan aku ceritakan saja tentang kejadian yang menimpa anaknya?!

Akupun berbalik ke kemah orang tua itu. Setelah dekat, yang pertama kali kudengar adalah suara tasbih dan tahlilnya. Aku bimbang, apa yang akan aku katakan? Bagaimana aku memulai?

Tiba-tiba terbesit dalam ingatanku kisah Nabi Allah Ayyub ‘alaihissalam. Aku masuk ke tempat orang tua itu. Aku menjumpainya terduduk sebagaimana aku meninggalkannya. Aku mengucapkan salam kepadanya. Kondisinya menyedihkan, berduka ingin bersua dengan anaknya. Dia menyambutku dengan pertanyaan, “Di mana anak itu?”

Aku berkata, “Jawab dulu pertanyaanku, siapakah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala, engkau ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?”

“Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam lebih dicintai Allah,” jawabnya.

Aku bertanya lagi, “Siapakah yang lebih berat ujiannya, Engkau ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?”

“Tentu Nabi Ayyub,” jawabnya.

Aku berkata, “Kalau begitu, harapkanlah pahala dari Allah karena kehilangan anakmu. Aku menemukannya telah meninggal dunia di celah bukit ini. Aku menemukan bekas terkaman serigala pada mayatnya.”

Maka orang tua itu menangis dan menjerit dengan suaranya yang berat, kemudian menjerit lagi. Lisannya mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ berulang-ulang.

Aku mencoba meringankan (kesedihan) nya dan menyabarkankannya. Suara jeritannya bertambah keras, sampai-sampai dia terjerembab ke tanah. Aku mencoba men-talqin-nya dengan kalimat syahadat. Tak lama kemudian dia meninggal dunia di hadapanku. Aku menutupinya dengan kain selimut yang ada di bawahnya.

Kemudian aku keluar mencari orang yang bisa membantuku mengurus jenazahnya. Aku melihat tiga orang laki-laki tengah berjalan pelan, sepertinya mereka adalah musafir. Aku berseru memanggil mereka, merekapun menoleh ke arahku.

Aku berkata, “Apakah kalian mau pahala yang Allah sediakan untuk kalian? Di sini ada seorang laki-laki dari kaum muslimin telah meninggal dunia, tidak ada orang yang mengurusnya. Apakah kalian mau tolong-menolong memandikannya, mengkafani, dan menguburkannya?”

“Baiklah,” jawab mereka.

Merekapun masuk ke dalam kemah tua itu, mereka menuju jenazahnya untuk mengangkatnya. Tatkala mereka mengusap wajahnya, tiba-tiba mereka berteriak histeris, “Abu Qilabah.. Abu Qilabah..!!”

Ternyata orang tua itu adalah Abu Qilabah, salah seorang ulama mereka. Waktu berputar di kehidupannya, ujian dan cobaan silih berganti menghampirinya, sampai dia jauh dari orang banyak, tinggal menyendiri di kemahnya yang kumuh.

Kami mengurusinya sebagai kewajiban atas kami. Lalu kami menguburkannya. Setelah itu aku pergi ke kota bersama tiga orang tadi. Di saat aku tertidur pada malam itu, aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan keadaan yang sangat baik. Dia mengenakan baju putih, rupa dan penampilannya begitu sempurna, dan dia sedang berjalan-jalan di tanah yang hijau.

Aku bertanya kepadanya, “Wahai Abu Qilabah, apa yang menjadikan rupa dan penampilanmu seperti yang kulihat ini?”

Dia menjawab, “Sungguh Rabbku memasukkan aku ke dalam surga, dikatakan kepadaku di dalamnya,
 سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’du: 24)
 (Kisah ini dinukil dari “As-Siyar” karya Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dengan sedikit perubahan).

Sumber: Ebook Untukmu Dokter & Pasien (www.kesehatanmuslim.com)
Gambar: @nadiagafar

Segerakanlah Bertaubat dan Jangan Mengulanginya Lagi

Bismillah.

Siapapun kita dimasa lalu, bukan berarti kita tidak berhak untuk menjadi muslim/muslimah yang lebih baik. Berhijrahlah selagi ada waktu, bertaubatlah sebelum terlambat, berubahlah!! Walau sejengkal demi sejengkal. Jangan menunggu hari esok.



Siapa diantara kita yang tidak pernah salah? Dan siapa juga diantara kita yang hanya punya kebaikan? Sejauh apapun dosa dan kemaksiatan yang telah kita lakukan, jangan berputus asa dari rahmat Allah, bertaubatlah dan jangan mengulanginya lagi. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sudahilah cerita masa kelammu di masa lalu, dan mulailah memperbaiki diri.

"Katakanlah, "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, jangalah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
"Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Nahl: 119)
"Sesungguhnya Allah yg Maha Mulia lagi Maha Agung menerima taubat seseorang sebelum nyawanya sampai di kerongkongan." (HR. Ath-Tirmidzi)
"Barang siapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah menerima taubatnya." (HR. Muslim)
Istiqamahlah dalam memperbaiki diri ke arah yang lebih baik, utamakan pandangan Allah daripada pandangan manusia, karena sebaik-baiknya penilaian hanyalah datang dari Allah Ta'ala. Yuk, memperbaiki diri. Hamasah!!

Menutup Aurat Itu Wajib, Muslimah!

Bismillah.

Perintah menutup aurat bukan hanya untuk wanita yang baik saja. Perintah menutup aurat bukan hanya untuk wanita yang pandai agama saja. Perintah menutup aurat juga bukan hanya untuk wanita yang pandai mengaji dan berakhlak mulia saja. Tapi menutup aurat itu adalah WAJIB hukumnya bagi setiap wanita yang mengaku dirinya seorang MUSLIMAH (Wanita Muslim).

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59)

Menutup aurat itu terkait dengan tuntunan syariat Islam bagi kaum hawa. Namun ternyata di balik menutup aurat terdapat manfaat untuk kesehatan dan kecantikan yang mungkin belum kita ketahui. Berdasarkan penelitian mengenakan kerudung atau jilbab merupakan pelindung kulit yang paling ampuh, bahkan melebihi keampuhan SPF-15. Berikut ulasan singkatnya:

• Terlindung dari efek sinar UV.
Sinar UV dinilai berbahaya apabila mengenai kulit dalam waktu tertentu. Masalah kesehatan yang sering di akibatkan oleh sinar UV antara lain kulit keriput, flek hitam, kulit kering, kerusakan mata, hingga kanker kulit. Para ahli kesehatan menyarankan orang untuk memakai sunblock demi melindungi kulit mereka, namun saran yang terbaik sebenarnya adalah memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh.

•  Terlindung dari udara panas dan dingin
Udara panas dapat merusak kesehatan khususnya pada otak. Ketika udara sedang panas dan harus keluar rumah, ahli kesehatan menyarankan untuk memakai pakaian yang bisa melindungi diri, terutama pada bagian kepala, mata, dan leher untuk mengurangi resiko kesehatan yang membahayakan otak. tubuh yang terkena udara dingin terlalu lama akan membuat seseorang menderita demam, flu, rasa ngilu, dan gemetar. pada suhu dingin disarankan untuk menutup kepala dan tubuh dengan pakaian tebal demi menjaga panas tubuh. Tes kesehatan membuktikan bahwa 40 % - 60% panas tubuh menurun akibat udara yang terlalu dingin.

•  Lebih tahan terhadap penyakit
kebiasaan menggunakan jilbab akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih telaten dan bersih. hal ini secara tidak langsung menjaga imunitas tubuh kita sendiri. Karena kebiasaan menjaga kebersihan dan tubuh dan terlindungi dari kontak fisik secara langsung membuat kita jauh dari kotoran, bakteri, dan virus penyebab penyakit.

• Menjaga kesehatan rambut
Rambut akan terlindung dari debu, sinar UV, dan polusi, sehingga batang rambut lebih terjaga kesehatan dan kebersihanya. Interaksi langsung antara rambut dan dunia luar dapat membuat warna dan kemilau rambut jadi kusam. Walau rambut cukup terlindungi dengan menggunakan jilbab, namun perlu diimbangi dengan perawatan yang baik.

Dan masih banyak lagi manfaat menutup aurat yang bisa kita rasakan. ^_^

Nah, tunggu apa lagi? Yuk, menutup aurat dengan sempurna ^_^

Wallahu A’lam

Referensi: seputarduniawanita.com dengan tambahan dari author.

UPS! HINDARI GHIBAH!

Bismillah..


Rasulullah ﷺ bersabda,
“Tahukan kamu apa ghibah itu? Para Sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai.” (HR. Muslim)
Hadits lain menyebutkan:
“Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci. “Sipenanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu bila yang diceritakannya itu benar ada padanya? “Rasulullah menjawab, “Kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar engkau berbuat buhtan (dusta/fitnah).” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." 
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ghibah adalah menggunjing orang lain untuk membicarakan aibnya, kekurangannya, kecacatannya, dan rahasianya. Bila orang yang diperbincangkan mendengar pasti merasa jengkel dan benci. Perbuatan semacam ini merupakan kedzaliman, meskipun yang dibicarakan itu sesuai dengan kenyataan, hukumnya dilarang (Haram).
“Pada malam aku diIsra’kan, aku telah melalui suatu kaum yang mencakar-cakar muka mereka dengan kuku-kukunya sendiri, maka aku berkata: “Hai Jibril, siapa mereka ini?” Jawab Jibril: “Mereka ini adalah orang-orang yang suka mengumpat dan mereka juga suka menjaga tepi kain orang.” 
(HR. Abu Daud)
Akan tetapi ada pula ghibah yang diperbolehkan dengan tujuan baik, yaitu:
  1. Untuk mengadukan orang yang menganiaya padanya kepada wali hakim.
  2. Minta tolong supaya menasehati orang yang berbuat mungkar pada orang yang dianggap sanggup menasehatinya.
  3. Karena meminta fatwa, misal: "Fulan menganiaya saya maka bagaimana jalan menghindarinya?"
  4. Bertujuan memperingatkan jangan sampai orang lain tertipu oleh orang tersebut.
  5. Terhadap orang yang terang-terangan menjalankan kejahatan, maka bagi yang demikian ini tidak lagi berlaku ghibah, sebab ia sendiri sudah terang-terangan.
Untuk menghindari perbuatan tersebut cobalah dengan menjaga lidah jangan sampai terjebak dalam perbuatan ghibah. Untuk itu hiasilah hati kita dengan akhlak yang terpuji, jauhilah prasangka buruk terhadap siapapun, serta hindari menggunjingkan perihal orang lain. Sebab perbuatan ini merupakan tipu daya syaitan yang akan menjatuhkan kita ke dalam lembah kefasikan. Ayo cepat kita beristigfar. Astagfirullah...
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." (HR. Bukhari)
Dan jangan lupa untuk selalu memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, juga mohon perlindunganNya agar diselamatkan dari segala bujuk rayu syaitan. Aamiin...

Wallahu A’lam...

Rahasia Shalat Tahajud

Bismillah..


AWAL MULA TAHAJUD DISYARI’ATKAN

Allah Ta'ala berfirman,
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)
Ayat tersebut merupakan salah satu dasar disyaria’tkannya shalat tahajud. Sebuah seruan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk qiyamullail. Kata “berselimut” (Al-Muzzammil) dalam ayat di atas secara kontekstual dapat diartikan orang yang sedang dirundung masalah, kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran, atau ketakutan dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang menimpanya. Sebab, surah ini turun setelah Rasulullah ﷺ menghadapi masalah berat, penghinaan, caci-maki, ancaman, dan percobaan pembunuhan dari kaum Quraisy.

Jadi, bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat, shalat malam diperlukan untuk menguatkan rohani guna menghadapi tantangan berat dalam melaksanakan dakwah. Dengan tekun mereka bertahajud demi mempererat hubungan dengan Rabb-nya, sumber segala pertolongan. Untuk itu, shalat tahajud bagi kita merupakan kebutuhan demi menghadapi problem kehidupan yang tak kunjung habis.

Selama satu tahun pertama, tahajud diwajibkan bagi kaum muslimin. Rasulullah ﷺ melakukan qiyamullail sampai bengkak kakinya. Sampai-sampai Siti Khadijah Ra. berseru:
“Wahai Rasulullah, jangan mempersulit. Tidurlah dulu!” Beliau segera menjawab, “Wahai Khadijah, masa tidur telah lewat.”
Sebagian sahabat juga sangat antusias beribadah sepanjang malam sehingga diberi keringanan.
“Bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil: 20)
Namun, akhirnya shalat tahajud ini hanya wajib bagi Rasulullah ﷺ pribadi, sedangkan bagi umatnya ia disunnahkan. Al-Qur’an menyebutkannya nafilah (ibadah tambahan atau sunnah):
“Bertahajudlah kamu pada sebagian malam hari sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)
Kendati ibadah tambahan, tahajud sangat dianjurkan. Dalam fiqih disebut sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Bahkan, shalat tahajud menduduki posisi kedua setelah shalat wajib.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Shalat yang manakah yang paling utama setelah shalat wajib?” Beliau menjawab, “Shalat tahajud.” (HR. Muslim)
MAKNA DAN RAHASIA SHALAT TAHAJUD

Tahajud artinya bangun dari tidur di malam hari. Dengan demikian, shalat tahajud dikerjakan di malam hari dan dilaksanakan setelah tidur terlebih dahulu, walaupun tidurnya hanya sebentar.

Mengapa shalat tahajud dilakukan setelah tidur? Bangun tidur pasti pikiran kita lebih segar. Bayangkan, dalam satu hari jantung kita berdetak sebanyak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus, dan juga pembuluh-pembuluh darah. Tanpa kita sadari, rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernapas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali, dan mengoperasikan 14 miliar sel otak. Manusia perlu istirahat. Dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan. Dengan tidur berarti terjadi proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan dan otak kita kembali berfungsi dengan sangat baik. Tak heran kalau Allah Ta'ala berkehendak agar shalat tahajud dikerjakan setelah tidur.

Mengapa pula tengah atau sepertiga malam? Malam yang hening dan tenang menunjang konsentrasi seseorang.
“Sesungguhnya bagun di waktu malam adalah lebih mengena dan bacaannya lebih berkesan. Pada siang hari engkau mempunyai urusan yang panjang. Sebutlah nama Tuhan-mu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. Al-Muzzammil: 1-8)
Menurut At-Tabari, bacaannya lebih berkesan maksudnya adalah bahwa shalat malam lebih membekas di hati daripada shalat di siang hari.

Kala aktivitas hidup pun terhenti dan kebanyakan manusia terlelap dalam tidurnya, bangun malam juga menghindarkan kita dari riya. Tahajud di malam hari mengajarkan keikhlasan. Ia juga barometer bagi kesungguhan seseorang dalam beribadah. Sengaja bangun malam hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki niat kuat pula. Niat yang kuat pasti didorong oleh motivasi yang kuat sehingga pekerjaan tersebut akan dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Rasulullah ﷺ memberitahu kita:
“Sedekat-dekatnya Rabb dengan hamba adalah waktu pertengahan malam yang akhir. Jika kamu sanggup berzikir pada waktu itu, lakukanlah.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Nasai)
Dalam hadits lain, beliau ﷺ menuturkan bahwa:
Sebelum terbit fajar selalu ada dua malaikat yang menyeru, “Adakah orang yang ingin bertobat? Jika ada, pasti diterima taubatnya. Adakah orang yang menginginkan sesuatu? Jika ada, pasti diberi, dan adakah orang yang beristigfar? Jika ada, pasti diampuni.” Lalu, Rasulullah ﷺ menyeru, “Sambutlah uluran Allah ini (dengan shalat tahajud).”
Wallahu A’lam

Referensi:
Shalat Tahajud Bersama Nabi, Karangan Ibnu Muhammad Salim.

Adab Berbicara

Assalamu'alaikum..

Sebenarnya kita sudah sering sekali diajari adab berbicara dengan orang lain. Namun terkadang luput dari prakteknya. So, yuk coba kita ulas sedikit diantaranya adab berbicara yang Rasulullah ﷺ contohkan kepada kita.

PERTAMA, BERBICARA HARUS YANG BAIK-BAIK


Rasulullah ﷺ bersabda,
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." (HR. Al-Bukhari)
Firman Allah Ta'ala,
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna." (QS. Al-Mukminuun: 1-3)
KEDUA, BERBICARA HARUS JELAS DAN BENAR
Termasuk dari etika berbicara yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah perkataan yang jelas sehingga mudah difahami dan tidak menyulitkan, tidak memakai kata-kata yang menyusahkan lawan bicara.

Bahkan Rasulullah ﷺ diberi "jawami'ul kalimi", yang artinya sedikit kata tapi makna jelas dan lugas, tidak bertele-tele dan banyak tafsir. Oleh karena itu, ketika kita berbicara harus dengan bahasa yang jelas, sehingga orang yang mendengarkan tidak salah paham atau kesulitan menafsirkan apa yang dimaksud. Sebagaimana dalam hadits Aisyah Ra,
"Bahwasanya perkataan Rasulullah ﷺ itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar." (HR. Abu Daud)
Memang ada anekdot yang mengatakan bahwa tambah sulit untuk dipahami sebuah tulisan atau sebuah pembicaraan maka itu dianggap semakin ilmiah. Anekdot itu tidak bisa dibenarkan, karena pembicaraan yang baik adalah yang dapat memahamkan pendengarnya dengan mudah dan dapat memotivasi pendengarnya untuk merenungkan dan mengamalkan apa yang disampaikannya.

KETIGA, SEIMBANG DAN MENJAUHI BERTELE-TELE
"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara, dan al-mutafaihiqun." Maka dikatakan: "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun?" Maka jawab Nabi: "Orang-orang yang sombong." (HR. Tirmidzi)
Ats-tsartsarun, artinya orang yang banyak bicara. Maksudnya orang tersebut dimanapun ia berada selalu banyak bicara dan tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Bahkan suka memotong pembicaraan orang lain. Namun lain halnya jika seseorang berbicara karena diminta untuk memberikan nasehat, maka ia tidak termasuk dalam kategori ats-tsartsarun.

Mutasyaddiqun, artinya berlagak dalam berbicara. Maksudnya ialah ketika ia berbicara ia ingin menampakkan bahwa dirinya fasih dalam mengucapkan kata-kata asing. Misalnya berbicara menggunakan bahasa arab di tengah orang awam yang mereka tidak faham bahasa arab. Atau misalkan menggunakan kata-kata asing yang tak difahami oleh orang yang diajak bicara. Maka seyogianya ketika sobat berbicara, perhatikanlah siapa yang diajak bicara, gunakanlah bahasa yang mudah difahami oleh orang lain.

Lain halnya jika kamu menggunakan bahasa Arab atau bahasa Inggris yang fasih dalam pergaulan misalnya ketika di pesantren, tentu tidak termasuk dalam golongan mutasyaddinqun karena tujuannya dalah untuk pembelajaran dan latihan agar fasih dalam berbahasa.

Al-mutafayhiqun, artinya orang yang menyombongkan diri. Maksudnya ialah ia menampakkan kesombongan karena mungkin diberi kelehian berupa jabatan, materi ataupun ilmu. Maka seyogianya bagi kita semua, ketika kita dikarunia Allah berupa kelebihan dalam materi (harta), ilmu maupun seuatu jabatan hendaklah kita semakin tawadhu', merendahkan hati dan selalu mengingat bahwa semua itu hanyalah titipan.

Oke sobat ID, seorang intelektual justru akan banyak memakai kata-kata yang sederhana dan tidak bertele-tele ketika berbicara karena ia tahu lawan bicaranya. So, permudahlah ketika kamu berbicara, jangan menyulitkan orang lain apalagi merusak bahasa atau menggunakan bahasa secara tidak tepat.

Wallahu A'lam..

Referensi:
  • Majalah Elfata Ed. 12 Vol. 13 Hal 54 - 55
  • Qabasun Min Nuri Muhammad Saw. (1100 Hadits Terpilih-Sinar Ajaran Muhammad) Penulis Dr. Muhammad Faiz Almath, dengan penerbit Daarul Kutub Alarabiyyah Damsyik- Syiria, tahun 1974, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh A. Aziz Salim Basyarahil yang diterbitkan oleh Gema Insani.